Bikin SIM C di Bandung (Kabupaten) - Tanpa Calo

Tulisan ini saya niatkan dalam rangka berbagi cerita dan informasi, terutama untuk temen-temen yang mau bikin SIM C di Kabupaten Bandung (Soreang) dengan jalur normal, tanpa CALO dan POLO (Polisi Calo)... (Untuk kisah pembuatan SIM A, nanti nyusul yah)...

Sebetulnya saya udah lama pengen terbang ke Polres di Soreang mengingat masa berlaku SIM C yang hampir habis, namun alhamdulillah baru sempat pergi pagi siang ini (Rabu, 26/01/11), dan karena ada beberapa urusan saya dengan ditemani istri baru bisa berangkat dari rumah jam 9 dan tiba sekitar jam 10 di Polres Soreang (+/- 30 km dari tempat saya).

Begitu masuk ke lingkungan polres langsung disambut oleh juru parkir, "disini pak parkirnya!" ya sudah karena diminta untuk parkir disitu akhirnya saya mengistirahatkan belalang tempur saya disana, lokasi parkirnya berada tepat diseberang kantor Polres.

Begitu turun dari belalang tempur, my spider-sense beraksi, "tinut... tinut..." merasakan aura busuk yang tajam mendekat dibelakang saya... oho... ternyata ada pak polisi... :D
"Mau bikin SIM, Pak?" tanya beliau ke saya, "Yoi pak" jawab istri saya... "Siang banget, udah pada tutup loketnya jam segini mah... udah sini ikut saya sebentar, yuk" kata pak polisi... Ternyata spider-sense benar, saya langsung berasumsi polisi berinisial AH ini masuk ke kategori POLO (Polisi Calo)...

Kami duduk di kantin dekat tempat parkir, niatnya sih sebentar aja, pengen tau apa sih maunya Polo ini. Tanpa basa-basi Polo menerangkan bahwa loket-loket sudah pada tutup, dan SIM gak akan bisa jadi hari ini, paling banter besok sore... begitu katanya. Lalu Polo menganjurkan untuk bikin SIM sama dia aja, gak perlu tes kesehatan, sidik jari dan asuransi, tinggal difoto aja... Karena saya kurang bisa berbicara Perancis Sunda walau mengerti, istri sayalah yang chatting sama Polo itu sambil saya senggol-senggol istri saya untuk menyegerakan menutup dialog, karena yakin ujung-ujungnya pasti duit dan tidak berkah buat kita semua... Males banget dah berusuran sama orang-orang kayak gini... Diterangkan lebih lanjut bahwa kalo bikin SIM ke dia harganya 330.000... bla... bla... bla... Akhirnya setelah 15 menit kami bisa menolak dan mengakhiri pembicaaraan dengan Polo berinisial AH itu.

Setelah 15 menit waktu habis dimakan Polo, kami langsung masuk ke gerbang kantor Polisi dan menemukan tempat parkir resmi yang agak lengang disana... harusnya memang parkirnya disini... tapi karena sudah terlanjur kami langsung melanjutkan perjalanan ke meja informasi, bertanya soal prosedur bikin SIM kepada pak Polisi... Singkat saja jawaban yang kami peroleh... tes kesehatan, sidik jari dan antre aja di loket, plus siapin fotokopi KTP 2 lembar, begitu kata pak polisi.

Oya sekedar info tambahan, ini kali pertama saya bikin SIM di Soreang, sebelumnya saya punya SIM Bekasi (SIM pertama, bikinnya tanpa calo) namun karena sudah pindah domisili jadilah saya masuk kategori 'membuat SIM baru', karena tidak memutasi berkas SIM yang lama.

Langkah pertama kami ke tempat tes kesehatan, lokasinya diseberang kantor Polres Soreang, dekat tempat parkir kami diluar. Begitu tiba disana saya langsung masuk tanpa antre karena kebetulan memang lagi kosong. Menurut blog yang pernah saya baca tes kesehatan biasanya disuruh membaca tulisan dari jauh, seperti tes waktu mau bikin kaca mata dan tes buta warna... Tapi ternyata saya tidak dites apa-apa, hanya ditanya kondisi kesehatan secara umum dan membayar Rp. 15.000. Waktu yang dihabiskan sekitar 5 menit.

Langkah kedua, saya ke tempat pengecapan sidik jari, disini harus beli formulir*) seharga Rp. 5.000,- untuk satu rangkap. Dalam satu rangkap itu ada 2 lembar yang harus diisi mengenai data diri dan ciri-ciri fisik. Alhamdulillah saya bawa pena sendiri jadi bisa langsung isi tanpa mengantre pena yang disediakan.

Setelah itu barulah mengantre untuk dibuat cap kesepuluh sidik jari kita di formulir tersebut, satu rangkap untuk kita dan satu lagi untuk petugas form. Lagi-lagi saya tidak mengantre panjang untuk membuat cap sidik jari ini, hanya berselang satu orang. Waktu yang dihabiskan untuk mengisi formulir dan mengantre sekitar 10 menit.

Langkah ketiga. Setelah mendapatkan dua berkas yakni kesehatan dan sidik jari, saya langsung ke meja informasi mengajukan pembuatan SIM baru, disini berkas kesehatan, sidik jari dan satu lembar fotokopi KTP diminta oleh pak Polisi untuk dimasukkan kedalam satu map resmi bermotif logo kepolisian RI. (Jadi nggak ada namanya beli map warna kuning/ merah kayak jaman dulu, seperti yang disebutkan dibeberapa blog tahun 2008-2009... Alhamdulillah mulai ada efisiensi disini). Waktu yang dihabiskan untuk mengantre disini sekitar 10 menit.

Langkah keempat. Sekarang saya sudah mendapatkan map bercoret huruf "C" (menandakan SIM C) yang berisi KTP, cap sidik jari dan surat keterangan kesehatan. Setelah itu saya masukkan map ini ke loket 1. Di loket ini penjaga yang berseragam biru menginformasikan untuk menunggu dipanggil untuk ikut tes teori. Saya menunggu kurang lebih 10 menit untuk dipanggil, jadi keseluruhan waktu hingga saat ini 35 menit (tidak termasuk ngobrol dengan Polo yang menghabiskan waktu 15 menit)

Langkah kelima. Saat tes teori pun tiba, saya dan sekitar 20 orang lainnya ikut tes teori kali ini. Kami diminta untuk masuk ke dalam ruangan berisi 30 kursi yang setiap kursinya sudah dipasang DTMS (Digital Test Management System), jadi kami tidak perlu membawa pensil dsb. Sebagai gambaran DTMS ini merupakan tes yang mempersilakan pesertanya memilih satu dari tiga jawaban dengan menekan tombol yang terpasang semi permanen disetiap kursi. DTMS memiliki dua tipe soal, A dan B, setiap kursi diacak sehingga mendapatkan soal-soal yang berbeda. Penyajian soalnya menggunakan layar dan proyektor serta audio yang cukup jelas. DTMS ini sangat memudahkan dan mengasyikkan, seakan-akan kita masuk ke sebuah wahana di Dufan... hehe.

Soal-soal yang ditanyakan cukup mudah, syarat lulus adalah benar 18 dari 30 soal. Oya pada DTMS ini setiap soal diberi waktu pengerjaan sekitar 30 detik, jadi memang harus menyimak betul setiap pertanyaan yang diajukan. Sebelum tes dimulai ada sedikit video petunjuk yang dibawakan oleh Polwan mengenai DTMS, kemudian diterangkan sedikit lagi secata teknis oleh Polisi yang bertugas mengawasi jalannya DTMS... Menariknya, hasil ujian teori ini langsung tampil begitu tes selesai, tidak lebih dari 1 menit setelah soal ke 30 ditutup.

Dari sekitar 20 orang yang ikut tes teori ini hanya satu yang gagal, dan dia bisa mengulang segera bersama kloter selanjutnya. Alhamdulillah saya termasuk orang yang lulus dan bisa melanjutkan ke tes praktik... Waktu total yang dihabiskan untuk tes teori ini sekitar 30 menit.

Langkah keenam. Setalah keluar ruangan tes teori, kami serombongan langsung menuju ke lapangan untuk tes praktik. Ada dua hal yang diujikan disini, pertama praktik melintasi jalur zig-zag, dan yang kedua, berjalan mengikuti pola angka "8". Syaratnya kaki tidak boleh menapak tanah dan tidak boleh menyentuh palang pembatas. Setiap orang diberi kesempatan tiga kali untuk mencoba, dan diperkenankan untuk menggunakan motor sendiri. Apablia gagal akan diminta untuk mengulang dua minggu kemudian...

Tibalah nama saya dipanggil diantrean kedua. Alhamdulillah dengan menggunakan motor sakti milik pak polisi saya berhasil melalui setiap tes praktik ini dalam satu kali jalan. Mudah kok :) dan polisinya juga ramah, karena kebetulan nama depan dia sama dengan nama depan saya... Pantes aja sebelum tes dia bilang sambil bisik-bisik... "Pak, harus berhasil ya... jangan bikin malu nama Yanuar... soalnya itu juga nama saya"... Hahaha.a.a.a.a...

Begitu dinyatakan lulus dengan skor 80, saya langsung masuk ke BRI untuk bayar pengurusan SIM C. Biaya resmi yang tercantum saat ini adalah Rp. 100.000, saya sempat baca blog seseorang, katanya biaya ini naik dari Rp. 75.000 pada bulan Juni/ Juli 2010. Setelah bayar saya dapat kuitansi untuk diserahkan ke pak Polisi penguji guna melengkapi berkas-berkas di map yang kita miliki tadi. Waktu yang dihabiskan untuk tes praktik dan mengurus pembayaran, termasuk antre sekitar 30 menit 

Langkah ketujuh. Kini map sudah lengkap, saya diminta untuk memasukkan berkas ini ke loket 2 dan menunggu dipanggil. Di ruangan utama tempat saya mengunggu ini terdapat 5 loket dengan bangku-bangku antrean yang terlihat kosong... Alhamdulillah datang siang ternyata tidak ramai seperti perkiraan sebelumnya, kurang lebih hanya ada 30 orang yang duduk di ruangan ini :) Suasananya jadi tidak terlalu tegang, mengurangi kelelahan mental... Lebih santai :)

Setelah dipanggil di loket 2, ternyata saya mendapatkan satu buah formulir*) isian lagi yang berisi pertanyaan mengenai data diri kita... Kenapa ya banyak banget form isian yang jawabannya pasti sama? Ya, meski ada pertanyaan begitu, tetaplah saya isi dengan cepat menggunakan pena sendiri, karena kalo mengisi dimeja yang disediakan, kita harus mengantre pena. Waktu yang dihabiskan untuk mengisi formulir yang cukup panjang (bolak-balik) sekitar 10 menit.

Setelah diisi, formulir langsung dimasukkan ke loket 3 untuk diinput datanya ke komputer. Proses penginputan ini agak lama karena mengantre. Waktu yang dihabiskan sekitar 20 menit.

Langkah kedelapan/ terakhir. Sambil menunggu, angry birds memanggil-manggil saya untuk minta dimainkan :D. Nama saya kemudian dipanggil di loket 4, kemudian diminta untuk tanda tangan dikertas (kecil) kosong untuk discan nantinya. Segera setelah menandatangani kertas kosong saya diminta antre ke ruang foto. Proses diruang foto ini sangat cepat kurang dari 3 menit untuk setiap orang. Sebelum difoto, pak polisi akan menyebutkan ulang identitas kita agar tidak terjadi kesalahan cetak di SIM nanti. Proses foto menghabiskan waktu 10 menit termasuk antre.

Ketika keluar dari ruang foto saya melewati mesin cetak SIM yang sepertinya sedang beroperasi mencetak SIM saya :) Seteleh sekitar 15 menit menunggu seorang pak Polisi keluar dari ruang foto dan membawa segenggam SIM milik banyak orang... dan dia memanggil satu persatu nama pada SIM itu untuk dibagikan kepada yang berhak... Nama saya juga dipanggil. Alhamdulillah selesai juga petualangan hari ini :D

Lega rasanya bisa membuat SIM dengan jujur, semoga berkah dan bisa bermanfaat buat saya pribadi dan lingkungan sekitar, semoga bapak Polo juga diberikan pencerahan, karena bikin SIM sendiri ternyata lebih mudah, murah, cepat dan membahagiakan... Hehehehe... Total waktu yang saya habiskan membuat SIM kali ini adalah sekitar 150 menit atau 2,5 jam ... cepat kan?

Oke sekian dulu catatan hari ini, semoga bermanfaat, berikut resumenya :

Yang harus dibawa saat membuat SIM C di Kabupaten Bandung
1. Uang Rp 120.000 (lebih banyak lebih baik, untuk jaga-jaga)
2. KTP asli dan 4 lembar fotokopi (lebih banyak lebih baik, untuk jaga-jaga)
3. Pena (supaya gak antre)
4. Snack, minum, buku, console (teman menunggu)
5. Teman, buat teman ngobrol/ untuk dimintai bantuan... Hehe

Prosedur Normal (tanpa antre)
1. Tes kesehatan (Rp 15.000 > +/- 5 menit)
2. Sidik jari, termasuk isi formulir (Rp 5.000 > +/- 10 menit)
3. Tes teori (+/- 30 menit)
4. Tes praktik (+/- 30 menit)
5. Bayar resmi pembuatan SIM Baru (Rp 100.000) untuk perpanjangan sepertinya lebih murah.
6. Foto (+/- 5 menit)
7. Selesai, alhamdulillah

*) Hampir semua formulir isian yang diberikan kurang "komunikatif" alias tidak terlalu jelas perintahnya. Isi saja sesuai interpretasi kita, mungkin ini bisa jadi catatan untuk kepolisian kita agar membuat form yang lebih user friendly.

Update Januari 2016 : Buat yang mau perpanjang SIM via armada SIM Keliling Online, baca artikel ini, bro.

Comments

as1989's Blog said…
ooo...begitu pak...
infonya sangat berguna sekali buat saya, soalnya saya juga rencananya mau buat SIM C nih...
Insya Allah besok deh...
makasih pak atas infonya...
Anonymous said…
Thank you for sharing this information :)
Urang bandung said…
Akhirnya dapat pencerahan jg bwat bikin sim C.
Hatur nuhun kang infona
Aditia Mahdar said…
waaaahhhh berguna sekali pengalamannya pak
syukron jiddan
kusumahdilaga said…
terimakasih atas infonya kang.
sangat membantu sekali, pribadinya untuk saya yg masih awam terhadap proses prosedural pembuatan sim C di wilayah kabupaten bdg.
:)
Insya Alloh besok rencana mau buat sim C.
prismarts said…
Terimakasih banget mas atas infonya..
infonya bagus dan sangat membantu :)

semoga selalu dimudahkan dan sukses selalu ya mas.

:)
vidiyan said…
Alhamdulillah tulisan ringan saya bisa bermanfaat :) Sukses selalu juga untuk yang ingin membuat SIM, share juga infonya jika ada informasi terkini ya :)
Naufal 6434 said…
wah, lumayan nih tulisannya mas yanuar... nambah-nambah referensi buat ntar bikin sim c... :D

hatur nuhun kanggo infona...
Awij said…
kemaren bulan maret 2014, tes kesehatan Rp. 25.000, Cap Jari Rp. 5.000,- tes praktek zigzag susah banget jarak dari tiang krng lebih 1 meter...
Awij said…
tavi sy liat di youtube ko jalan zigzag jarak dari tiang ke tiang gede banget????????
zaenal said…
ini motor yg di pake tes nya yg berkopling ato tanpa kopling ya?

maklum sy blm bisa motor kopling, biasa matic aja. hehe
Unknown said…
Makasih Mas buat info-nya banyak manfaat buat yg mau bikin SIM C. Minggu dpn kyknya bakal balik-Bandung buat bikin SIM C
Unknown said…
Alhamdulilah saya salut sm bp, sangat brani buat buka demi kebenaran. Mudah2an yg di atas kursi para pengayom, dpt menindas para POLO trsbt, jd gantian jngn kita aja yg kena tilang. Jg d cari2 kesalahan. Trmksh. Dr anak indonesia
blog sopiyan said…
Makasi sngat membantu infonya