Tujuan yang Terlupakan

Al Quran telah mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik permintaan manusia itu adalah sebagaimana dimaksud dalam surat Al-Baqarah ayat 201 :

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan periharlah kami dari siksa neraka"

Semua kegiatan yang dilakukuan manusia, pasti mempunyai tujuan tertentu. Seorang pegawai rela mengabiskan sepanjang harinya mengerjakan pekerjaan kantor, karena ia mempunyai tujuan ingin memperolah upah untuk menghidupi keluarganya. Bila suatu saat kantornya itu tidak dapat lagi memberinya upah, tentu ia akan segera keluar dari kantor itu.

Orang yang tidak tahu tujuan kegiatan yang dilakukannnya adalah ibarat sapi di pejagalan. Sapi tidak pernah tahu untuk apa ia dbawa ke tempat pejagalan. Seandainya saja dia tahu, tentunya dia tidak punya selera lagi untuk makan rerumputan segar yag disodorkan kepadanya; atau setidak-tidaknya ia akan mencari kesempatan untuk kabur dari tempat itu.

Demikian jugalah kiranya pada waktu mempelajari agama. Kita seharusnya tahu untuk apa tujuan mempelajari agama itu. Bila tidak, bukankah ini berarti kita sama saja dengan sapi yang disebutkan tadi?

Untuk apakah sebenarnya tujuan kita mempelajari agama?

Tiak diragukan lagi, kita perlu mempelajari agama, yaitu agar di dunia ini kita bisa hidup bahagia dan di akhirat kelak akan menempati surga. Bila sekarang ini kita masih juga dilanda stress, gelisah, dendam, iri hati, kecewa berat dan segala macam apa pun yang bertentangan dengan kebahagiaan; maka haruslah kita akui dengan jujur, bahwa pelajaran agama yang telah kita dapatkan selama ini, ternyata masih jauh dari tujuannya.

Pengajian-pengajian ataupun ceramah agama yang kita ikuti, mungkin masih kurang banyak. Atau, kita sudah cukup rajin menghadiri pengajian-pengajian agama, tetapi kita belum pandai memilah-milah yang disampaikan oleh pak kiai. Apa yang seharusnya kita benamkan ke dalam jiwa, hanya kita lewatkan saja di telinga. Sebaliknya, apa yang seharusnya dilewatkan saja di telinga seperti selingan humor, justru itu yang kita benamkan dalam hati. Hal ini terjadi karena kemungkinan besar kita lupa, untuk apa sebenarnya tujuan kita hadir di tempat pengajian itu. Bila sejak awal kita mengetahui dengan benar apa tujuan kita menghadiri pengajian, maka mestinya kita akan dapat memilah-milah mana pasir dan mana mutiara. InsyAllah.

Mudah-mudahan firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 103-104 dapat menggugah hati kita untuk melakukan introspeksi, apakah selama ini kita sudah benar dalam mempelajari agama. Jangan-jangan kita seperti sapi, yang tahu tempat pejagalan tetapi tidak tahu untuk apa berada di sana.

Katakanlah : "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya."

Diambil dari "Sentuhan Kalbu - Ir. Permadi Alibasyah, hal. 40-42"

Comments